Custom Search
Analisis Film Sang pencerah
Diposting oleh : adit_ya5
Kategori: - Dibaca: 1898 kali



Jujur karena tak ada ide kali ini saya akan membuat sebuah artikel yang sebenarnya merupakan fersi pendek dari makalah yang saya buat. Yang makalah di nilai A oleh dosen faforit saya bu Beti.  Oke langsung kita akan menganalisis sebuah flim yang berjudul Sang Pencerah


Sang pencerah merupakan sebuah film yang menceritakan tentang seorang tokoh yang mencoba melawan tradisi yang menyengsarakan umat dan merubahnya ke arah yang lebih baik. Tapi sebenarnya film ini, memuat hal-hal yang sensitif dan mudah menimbulkan konflik sosial. Dan setiap usaha yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah ini selalu berujung pada kegagalan. Namun, sang sutradara berhasil membuat filmnya diterima oleh semua kalangan, dan juga mendapatkan cap sebagai film yang inspiratif.


Hal pertama yang dilakukan Hanung Bramantyo adalah menjelaskan situasi sosial yang berkembang di Kauman pada saat itu, dimana rakyat begitu sengsara dan terdapat jurang pemisah antara kaum priayi(orang yang termasuk lapisan masyarakat yang kedudukannya dianggap terhormat) dan rakyatnya. Hal ini diperburuk dengan kaum agamawan muslim disana yang memaksakan upacara-upacara yang memberatkan kaum abangan(golongan masyarakat yg menganut agama Islam, tetapi tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan), sehingga agama islam disana bukan menjadi rahmat tetapi, menjadi sesuatu yang ditakuti.


Jika kita telaah kita akan melihat bahwa sistem feodal berkembang pesat di daerah Jogjakarta. Rupanya sistem kasta peninggalan kerajaan Hindu Budha masih membekas dihati para petinggi Jogjakarta. Ini mengakibatkan agamawan disana sedikit tinggi hati. Sehingga, terkadang mereka tidak mau mendengarkan pendapat yang lain karena ada rasa bahwa mereka lebih baik dari orang lain.


Sebenarnya dengan menceritakan ini Hanung Bramantio secara tidak langsung mengkritik secara halus kaum fundamentalis yang tidak mau menerima inofasi-inofasi baru bagi perkembangan Islam. Hal ini didasarkan ada kesamaan karakter antara kaum fundamentalis pada dewasa ini dengan kaum agamawan muslim di Kauman. Mungkin, pemikiran kaum fundamentalis merupakan sebuah warisan yang diturunkan oleh agamawan di Jogjakarta, yang menganggap semua hal yang datang dari barat adalah salah, bahkan sering disebut kafir.


Dari situ saya berpendapat bahwa lahirnya teori-teori konspirasi yang banyak beredar di masyarakat. Terlepas dari benar atau tidaknya teori-teori tersebut, yang jelas saya berpendapat sama seperti yang dikatakan oleh film ini, bahwa tidak semua yang datang dari barat adalah kemudaratan, ada beberapa hal yang dapat kita petik dan kita dapat gunakan untuk kemajuan islam. Bahkan sedikit imformasi, dulu waktu zaman keKhalifahan Abasiyah orang Islam pernah menerjemahkan karya orang-orang Yunani kuno, sehingga memicu kemajuan peradaban islam.     



Hanung juga dalam film menunjukan bahwa sebenarnya Ahmad Dahlan orang biasa juga sama seperti kita. Bahkan, beliau sempat ingin menyerah untuk berdakwah di Kauman, dan menyimpan sedikit dendam kepada orang-orang yang telah meruntuhkan langgarnya. Namun, tentunya bukan orang besar namanya jika beliau tenggelam dalam keterpurukan, beliau bangkit dan menjadi seorang inovator dan inspiator bagi bagi seluruh rakyat Indonesia.



Tapi dari semua pesan terselubung yang ada pada film ini, ada satu yang paling kamu suka yaitu pada waktu ending film. Adegan itu menunjukan seorang Kepala katib masjid Gede yang duduk dimesjid dan memanggil Ahmad Dahlan, dan kemudian secara tidak langsung beliau meminta maaf pada Ahmad Dahlan. Adegan ini mempunyai pesan bahwa jika kita menekan sedikit ego dan membuka diri kita, kita dapat bersatu meskipun perbedaan ada diantara kita, asal kita mempunyai satu tujuan sama yaitu kejayaan Islam.



Analisis Pesan Film


Setelah kita mengupas tuntas isi film, hal selanjutnya yang akan saya lakukan adalah memaparkan pesan yang terkandung dalam film tersebut. Mungkin, beberapa pesan telah saya paparkan dalam analisis isi, tetapi itu hanya sebagian dari pesan yang terkandung dalam film ini.


Film ini sebenarnya mempunyai pesan yang universal, sehingga film ini tidak hanya ditujukan bagi kalangan Muhammadiyah saja. Pesan film ini adalah sebagai berikut:


a.       Jangan mudah menyerah


Seperti kita tahu bahwa perjuangan Ahmad Dahlan tidaklah mudah. Berkali-kali beliau dihina bahkan dicaci maki sebagai seorang Kiai kafir, tetapi itu tidak menyurutkan semangat beliau. Bahkan beliau terus berjuang hingga terbentuklah Muhammadiyah. Ini mengindikasikan bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa tidaklah boleh pantang menyerah walaupun rintangan terus datang.


b.       Teruslah belajar


Seperti kita tahu dalam film dicerikan bahwa setelah mendapat gelar Kiai Ahmad Dahlan kembali ke mekah untuk menuntut ilmu. Adegan ini sebenarnya memberi pesan bahwa kita tidak boleh merasa puas dengan ilmu yang kita miliki sekarang. Bahkan, setelah pulang ke tanah air, beliau kembali belajar kepada Budi Utomo tentang keorganisasian dan belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Ini menandakan bahwa ilmu merupakan sesuatu yang sangat berharga hingga kita harus terus mencarinya hingga ujung usia kita.


c.       Hilangkan fanatisme


Menurut saya setelah menelaah berbagai media masa, ada satu kesimpulan yang dapat saya ambil yaitu bahwa dalang dari perpecahan umat di indosesia khususnya adalah fanatisme. Mengapa demikian? karena orang yang memiliki fanatisme akan lebih arogan dan akan menganggap bahwa kelompok lain itu salah. Sehingga ketika diadakan dialog, seringkali tidak akan menyelesaikan masalah karena orang yang seperti kriteria diatas akan dikuasai egonya sehingga tidak akan mau menerima pendapat yang lain.


Film ini sebenarnya memiliki pesan untuk menghilangkan paham seperti ini. Ini ditunjukan ketika Ahmad Dahlan belajar kepada Budi Utomo tentang keorganisasian dan belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Jika kita lihat sejarah, Budi Utomo merupakan organisasi kejawen yang secara terang-terangan menghina rasulullah. Ini menandakan bahwa ketika kita menghilangkan fanatisme dalam diri kita, sebenarnya kita dapat mengambil sesuatu yang baik meskipun dari sebuah pantat ayam.       


d.      Manfaatkanlah segala sesuatu yang mendatangkan manfaat


Seperti kita tahu bahwa orang pertama yang membuat madrasah Ibtidaiyah ala orang barat adalah Ahmad Dahlan. Hal ini menunjukan bahwa beliau orang mobile sehingga untuk mencapai tujuaanya beliau menggunakan hal-hal yang ada disekitarnya. Ini mempunyai pesan bahwa kita harus membuka diri kita dan menggunakan segala yang ada disekitar kita, asalkan hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama. Tentunya sebelum kita bisa melakukannya, terlebih dahulu kita harus menghilangkan paham fanatisme golongan yang ada di dalam diri kita. Kerena satu-satunya hal yang dapat mencegah kita menggapai kemajuan adalah paham fanatisme itu sendiri.




Share on:
  • Twitter
  • Facebook
  • Digg





    8 Komentar :


    Dewi Persik
    07 Agustus 2012 - 14:13:46 WIB
    Informasi yang anda berikan sangat menarik dan bermanfaat..
    Agen Bola
    05 Desember 2013 - 18:46:50 WIB
    Bagus ni Film nya
    SBOBET
    05 Desember 2013 - 18:47:28 WIB
    Banyak Film bagus di Indonesia sekarang,,Mantap
    Agen Betting
    05 Desember 2013 - 18:48:06 WIB
    Bagus
    Agen Bola
    05 Desember 2013 - 18:48:20 WIB
    Bagus
    Berita Bola
    05 Desember 2013 - 18:48:43 WIB
    Mantap
    SBOBET
    05 Desember 2013 - 18:49:08 WIB
    Mantap
    puisi kasih sayang ibu
    21 Maret 2014 - 18:03:02 WIB
    semoga beritanya bermanfaat bagi semua orang..
    http://cinta009.blogspot.com/
    << First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)